Saturday, 4 January 2025

A Woman called Mamak

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙄 — Prakata

Kehadiran seorang ibu dalam hidup kita adalah anugerah yang tak ternilai, sebuah permata yang bersinar terang di tengah gemerlap dunia. Bagi saya—dan saya yakin, resonansi yang sama bergetar dalam sanubari setiap insan—ibu adalah sosok yang bukan hanya memberi warna, melainkan juga merajut makna yang mendalam dalam setiap helai langkah kehidupan. Meskipun waktu telah mengantar beliau jauh, kembali ke pangkuan Sang Khalik, kenangan akan sentuhan lembutnya, bisikan penuh kasihnya, serta jejak pengorbanan yang tak terhingga tetaplah hidup dalam relung hati ini, menjadi kompas yang setia menuntun di setiap persimpangan jalan hidup yang terkadang penuh teka-teki.

Seorang ibu adalah perwujudan ketulusan, pribadi yang dengan tanpa pamrih mencurahkan segenap perhatian dan pengorbanan, tanpa pernah sedikit pun mengharapkan imbalan duniawi. Beliau adalah arsitek pertama jiwa kita, yang melalui sentuhan lembut yang ajaibnya mampu menghapus butiran air mata yang membasahi pipi, melalui kata-kata penuh semangat yang bagaikan oase membangkitkan kembali harapan yang sempat meredup, dan melalui dukungan tanpa syarat yang hadir bagai pelukan hangat di kala kita terhuyung jatuh. Dalam setiap interaksinya, beliau menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi moral kita, mengajarkan ketangguhan yang membekali kita untuk menghadapi badai kehidupan yang tak terduga, serta menumbuhkan keyakinan yang membisikkan bahwa setiap mimpi, setinggi apapun, pada akhirnya dapat diraih dengan tekad dan kerja keras. Ibu adalah satu-satunya tempat berlindung di saat kegundahan datang menyerang pikiran, sumber inspirasi yang tak pernah kering di saat keraguan mulai menggerogoti keyakinan diri, dan penyemangat setia yang selalu hadir dengan senyuman tulus yang mampu menghangatkan hati, bahkan saat kita tertatih-tatih mengejar harapan yang tampak jauh.

Ibu selalu hadir sejak awal keberadaan kita di dunia ini, jauh sebelum kita mampu memahami kompleksitas kehidupan orang dewasa. Beliau dengan rela mengorbankan setiap kepentingan pribadinya, menunda mimpi-mimpinya sendiri, demi memastikan masa depan kita—anak-anaknya—terjamin dan penuh peluang. Beliau adalah pahlawan sejati tanpa medali kehormatan duniawi, yang senantiasa berusaha memberikan yang terbaik, bahkan ketika diri sendiri kekurangan. Terbayang dalam benak, dari bangun pagi dengan mata sembab menyiapkan segala kebutuhan keluarga yang tak pernah ada habisnya, hingga terjaga di tengah sunyinya malam saat kita, anak-anaknya, dilanda ketakutan akan gelap atau mimpi buruk—ibu selalu hadir bagai malaikat penjaga, menjadi pelita yang tak hanya menerangi gelapnya ruang kamar, tetapi juga menenangkan gejolak di dalam hati yang rapuh. Dari seorang ibu yang penuh kasih, kita belajar arti kesabaran yang tak bertepi, ketulusan hati yang sejati yang mengalir murni tanpa pamrih, dan kasih sayang yang mengalir deras seperti sungai yang tak pernah kering oleh terik matahari maupun dinginnya musim.

Tulisan sederhana ini lahir dari sebuah harapan yang tulus, yaitu dapat menjadi bentuk penghormatan yang mendalam dan ungkapan terima kasih yang tak terhingga kepada ibu tercinta yang kini telah tiada, telah kembali ke haribaan Sang Pencipta yang Maha Pengasih. Meskipun raga beliau telah beristirahat dengan tenang, peran dan jejak yang beliau tinggalkan dalam membentuk fondasi kehidupan ini, dalam mengukir karakter dan nilai-nilai yang kita pegang teguh, sungguh takkan pernah tergantikan oleh apapun di dunia ini. Mari sejenak kita tundukkan kepala dan merenungkan betapa dalamnya arti kehadiran seorang ibu dalam setiap detik kehidupan yang kita jalani, dan bagaimana kita bisa terus mengenang serta menghormatinya bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam setiap tindakan dan pilihan yang kita ambil dalam kehidupan yang terus berjalan ini.

Dalam setiap langkah yang kita ayunkan di jalan kehidupan, ibu adalah sumber motivasi abadi yang tak pernah pudar oleh gerusan waktu. Beliau adalah pemahat jiwa yang membentuk kita menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi tantangan, bijak dalam mengambil keputusan, dan penuh kasih dalam berinteraksi dengan sesama. Dari ibu, kita belajar untuk memiliki keteguhan hati yang kokoh seperti karang yang tak goyah diterjang badai kehidupan, untuk memiliki ketenangan batin yang menyejukkan seperti air yang mengalir saat kegelisahan melanda pikiran, dan untuk senantiasa rendah hati seperti padi yang semakin merunduk berisi, menyadari bahwa setiap pencapaian adalah berkat yang patut disyukuri.

Semoga tulisan sederhana yang terlahir dari kerinduan ini menjadi pengingat yang abadi bagi kita semua tentang betapa tak ternilainya peran seorang ibu dalam setiap aspek kehidupan. Semoga saya pun, sebagai seorang anak yang sangat mencintainya, dapat terus mengenang dan menghormatinya melalui setiap doa yang kupanjatkan, melalui setiap kebaikan yang kulakukan, dan melalui segala perbuatan yang mencerminkan cinta kasih yang telah beliau curahkan sepanjang hidupnya. Kehadirannya akan selalu terasa begitu nyata, dalam setiap hembusan napas yang kuambil dan dalam setiap detak jantung yang berirama di dalam dada ini, sebuah warisan cinta yang takkan pernah lekang oleh waktu.

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙄𝙄 / Mukadimah

Tulisan yang saat ini terbentang di hadapan pembaca, sebuah untaian kata sederhana tentang sosok yang begitu sentral dalam kehidupan kami, ibu tercinta, hanyalah setetes air di tengah samudra luas sebuah karya yang lebih besar. Lebih tepatnya, ini adalah sebuah sumbangan yang tulus, sebuah bagian kecil namun penuh makna, yang akan menghiasi lembaran-lembaran sebuah buku yang ditulis secara kolektif oleh anak dan cucu dari keluarga besar kami, keluarga Hakim. Buku ini diharapkan akan menjadi mozaik cerita, sebuah kumpulan pengalaman dan pandangan yang beragam dari setiap anggota keluarga dalam mengenang dan memaknai kehadiran ibu kami. Saya sendiri, sebagai anak keempat dari enam bersaudara kandung—semuanya laki-laki—merasakan betul betapa uniknya perspektif setiap dari kami. Keunikan ini semakin diperkaya dengan kehadiran seorang adik angkat perempuan dalam keluarga kami. Dahulu, kerinduan mendalam ibu untuk memiliki seorang putri mendorong beliau untuk mengadopsi seorang cucu perempuan dari kakaknya sebagai anak perempuannya. Jadi, walau statusnya adalah adik angkat, ikatan darah yang kental tetap mengalir di antara kami berenam bersaudara kandung dan dirinya.

Tulisan-tulisan yang terkumpul dalam buku ini, yang kami harapkan akan menjadi sebuah narasi yang utuh, akan menjadi gambaran yang kaya dan mendalam tentang perjuangan serta dedikasi seorang ibu bernama Zubainar, sebagaimana direfleksikan melalui lensa pengalaman dan ingatan anak-anak serta cucu-cucunya. Tentu saja, dalam kumpulan cerita ini, akan ada benang merah kesamaan, beberapa hal atau kejadian penting yang mungkin dibahas dari sudut pandang yang berbeda oleh saudara-saudara yang lain. Namun, justru di sinilah letak kekayaan perspektif buku ini. Cara pandang kami terhadap sosok ibu bisa saja berbeda, bahkan mungkin menunjukkan polaritas yang menarik, karena sifat subjektif yang melekat pada setiap individu yang menulis. Setiap pena akan menari mengikuti irama kenangan dan interpretasi pribadi, menghasilkan sebuah harmoni yang unik dari cinta dan penghormatan.

Berbeda dengan beberapa saudara saya yang lain, yang telah menorehkan tinta dalam berbagai artikel dan bahkan menghasilkan sejumlah buku yang membanggakan, saya sendiri pada awalnya tidak terlalu memiliki hasrat yang membara untuk menulis. Ungkapan 'tidak terlalu' ini perlu diperjelas; bukan berarti saya sama sekali tidak pernah menyentuh pena untuk menulis. Biasanya, dorongan untuk menulis muncul ketika ada kebutuhan untuk mengabadikan suatu perjalanan yang berkesan atau melaporkan kegiatan di dalam suatu komunitas tempat saya berinteraksi, seperti komunitas alumni sekolah yang penuh nostalgia, perkumpulan pensiunan dengan cerita masa lalu yang kaya, atau berbagai organisasi lain yang mewarnai kehidupan sosial saya. Namun, di lubuk hati, saya menyimpan keyakinan yang teguh bahwa saya pun memiliki kemampuan untuk merangkai kata dan menghasilkan sebuah tulisan yang berarti. Tulisan tentang pandangan saya terhadap ibu kami ini menjadi langkah awal yang penuh harap, sebuah kontribusi sederhana dalam proyek tulisan bersama ini, sambil memelihara impian suatu saat nanti dapat menerbitkan sebuah buku—setidaknya satu—sebagai bentuk penghormatan terhadap wasiat almarhum Ayah. Konon, suatu hari, dalam sebuah percakapan yang hangat, Ayah pernah menyampaikan pesan yang terukir dalam benak kami, anak-anaknya, kurang lebih begini: "Tulislah setidaknya sebuah buku sebelum mata kalian terpejam selamanya." Maklum, darah seorang wartawan sekaligus penulis buku mengalir deras dalam nadinya, dan beliau sangat menghargai kekuatan kata-kata yang tertulis.

Oleh karena itu, saya menyadari betul bahwa saya bukanlah seorang penulis hebat dengan jejak karya yang mengagumkan seperti saudara-saudara saya yang lain. Hingga saat ini, belum ada satu pun buku utuh yang berhasil saya lahirkan, meskipun wasiat Ayah tersebut telah lama terucap. Namun, saya percaya bahwa benih kemampuan menulis dalam diri saya mulai tumbuh dan berkembang ketika saya secara iseng mencatatkan pengalaman perjalanan dalam sebuah buku harian sederhana. Kemampuan ini kemudian semakin terasah seiring berjalannya waktu, terutama ketika saya mengabdikan diri sebagai seorang birokrat di salah satu instansi Pemerintah. Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN), menulis surat, terutama surat kedinasan dengan format dan bahasa yang baku, menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas pekerjaan saya. Latihan menulis formal ini, tanpa saya sadari, turut membentuk disiplin dan ketelitian dalam merangkai kalimat.

Saya sungguh meyakini bahwa ide untuk menulis tentang ibu tercinta ini merupakan sebuah inisiatif yang sangat positif dan berharga. Sebelum semua kenangan yang indah perlahan memudar ditelan waktu, kita berupaya untuk mengabadikan apa yang masih terpatri jelas dalam ingatan. Misalnya, bagaimana ibu selalu memberikan dukungan yang tak pernah surut kepada setiap anaknya, termasuk saya, dalam setiap kegiatan yang kami tekuni, baik di lingkungan sekolah maupun di luar jam pelajaran. Bagaimana beliau senantiasa menjadi sumber motivasi yang tak pernah kering, memberikan dukungan moral yang sangat berarti dan menjadi landasan kekuatan bagi kami dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Saya berharap yang tulus bahwa tulisan sederhana ini kelak dapat menjadi pengingat yang abadi bagi kita semua, terutama bagi diri saya sendiri, tentang betapa tak ternilainya peran seorang ibu dalam menapaki setiap liku kehidupan saya.

Dengan demikian, saya memendam harapan yang besar bahwa tulisan ini, meskipun hanya merupakan secuil bagian dari keseluruhan karya keluarga, dapat menjadi bagian yang bermakna dari warisan keluarga Hakim, dan mampu menorehkan inspirasi bagi generasi-generasi penerus keluarga kami di masa depan. Saya juga berharap bahwa kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini dapat menjadi contoh yang berharga bagi anak-anak muda lainnya tentang betapa pentingnya menghargai dan menghormati orang tua, sosok yang telah mencurahkan segalanya demi kebahagiaan dan kesuksesan kita. Dan pada akhirnya, saya juga berharap bahwa inisiatif menuliskan pengalaman hidup, sekecil apapun, akan menjadi kebiasaan yang baik, sehingga anak cucu kita di kemudian hari akan mendapatkan gambaran yang jujur dan otentik tentang diri kita, tentang nilai-nilai yang kita junjung tinggi, dan tentang jejak langkah yang telah kita ukir dalam perjalanan waktu


π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙄𝙄𝙄 / Latar Belakang/Summary

Ibu saya bernama Zubainar, sebuah nama khas perempuan Minang. Beliau tercatat lahir di Ombilin pada 11 Oktober 1922. Ombilin merupakan sebuah jorong, sebutan khas wilayah setingkat desa di Ranah Minang. Selanjutnya, setingkat di atas Jorong disebut Kenagarian, yang adalah setingkat Kelurahan. Jadi, selengkapnya Ombilin berada di bawah Kenagarian Simawang, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Batusangkar, Provinsi Sumatera Barat. Ombilin terletak di tepi Danau Singkarak, berbatasan dengan Batu Tabal di sebelah barat dan Batu Limbak di sebelah timur.

Meskipun lahir di Ranah Minang, ibu saya lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di Pulau Jawa, mulai dari Cilacap, Yogyakarta, hingga akhir hayatnya menetap di Jakarta. Beliau pernah mengatakan bahwa beliau hanya pernah tinggal di kampung halamannya kurang dari dua bulan sepanjang hidupnya! Mungkin itulah sebabnya beliau lebih fasih berbahasa Jawa karena tinggal di lingkungan orang-orang berbahasa Jawa, dan juga berbahasa Belanda karena beliau bersekolah di sekolah Katolik Belanda. Ibu saya tidak terlalu fasih berbahasa Minang, bahasa ibunya, dan juga tidak bisa berenang, padahal tidak ada orang yang tinggal di sekeliling danau  yang tidak mampu berenang.

Saya tidak memiliki cukup informasi sejak kapan orang tua beliau tinggal dan menetap di Cilacap. Pengetahuan saya tentang ibu saya hanya sebatas bahwa ketika usia remaja ibu kami dibawa oleh ayahnya yang bekerja sebagai sipir penjara, ditempatkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. Kelak ibu kami mendapatkan jodohnya, ayah kami, seorang tahanan politik pemerintah penjajahan Jepang disana. Mungkin pengalaman hidup yang penuh tantangan ini yang membentuk karakter ibu kami menjadi kuat dan tangguh.

Tentang sekolahnya, ibu saya tampaknya berbakat dalam hal bahasa. Beliau pernah memperlihatkan buku rapotnya yang sudah lusuh dimana beliau mendapat nilai tertinggi untuk pelajaran bahasa Belanda. Kemampuan bahasa Belanda ini tentunya sangat berguna bagi ibu kami dalam berinteraksi dengan masyarakat Belanda baik di Cilacap, Yogyakarta, dan Jakarta.

Di dalam keluarga, ibu saya memainkan peran yang sangat penting. Beliau bertanggung jawab penuh atas tugas-tugas domestik seperti memasak, membersihkan, dan merapikan rumah. Beliau juga sangat terampil dalam menjahit pakaian semua anak-anaknya. Ketika anak-anak mulai tumbuh dewasa, ibu kami mulai membagi tugas rumah tangga kepada kami. Ada yang bertugas menyapu dan mengepel, ada yang mencuci pakaian, dan ada yang menyetrika. Dengan cara ini, ibu kami tidak hanya mengurus rumah tangga dengan baik, tetapi juga mengajarkan kami tentang tanggung jawab dan kemandirian.

Ibu kami hampir tidak pernah bercerita tentang kehidupan remajanya di Jawa selain bahwa ibu dan ayah kami menikah di Cilacap pada tahun 1945. Dikarenakan keadaan perang waktu itu, keluarga mereka terpaksa mengungsi ke Yogyakarta. Konon perjalanan itu dilakukan dengan berjalan kaki! Dua kakak tertua saya lahir di kota Yogyakarta ini.

Di Jakarta, keluarga kami tinggal di beberapa tempat, namun kakak-kakak saya lebih tahu tentang detailnya. Ketika kakak nomor tiga, saya, dan seorang adik nomor lima lahir, keluarga kami tinggal di Jl. Segara, yang sekarang dikenal sebagai Jl. Veteran. Adik bungsu lahir ketika kami sudah tinggal di Bendungan Hilir

Ibu kami wafat di Jakarta pada 13 Januari 2005, pada usia hampir 82 tahun dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, disatukan bersama dengan makam ayah kami yang sudah lebih dahulu wafat 13 tahun sebelumnya. Meskipun beliau telah pergi, kenangan dan pengalaman hidupnya akan selalu menjadi inspirasi bagi kami.

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙄𝙑 : Orang-orang Dekat Mamak

Mamak, begitu kami memanggil ibu kami, terlahir dari seorang ibu bernama Rakina dan seorang bapak bernama Mohammad Djalil (kakek dan nenek kami). Mamak memiliki beberapa keunikan, atau bahkan bisa disebut keistimewahan. Salah satu keunikan Mamak adalah beliau memanggil ibunya dengan sebutan "Etek", yang dalam bahasa Minang berarti "Tante" atau "Bulik" dalam bahasa Jawa. Konon, ini karena sewaktu kecil Mamak meniru cara kakak sepupunya—keponakan dari ibunya—memanggil ibunya dengan sebutan "Etek" tersebut.

Mamak mempunyai seorang kakak perempuan bernama Kamsana, yang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Kami memanggilnya "Mak Tuo". Mak Tuo adalah satu-satunya saudara kandung Mamak, dan mereka memiliki hubungan yang sangat dekat. Mak Tuo sering menjadi tempat curhat Mamak walau hanya sebatas surat penyurat. Ketika Mak Tuo berkunjung ke Jakarta, beliau selalu membawa kan oleh-oleh khas berupa kerupuk yang disebut "SADARIYAH" yang terbuat dari singkong. Selain itu, salah seorang anak Mak Tuo juga bekerja di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, tempat di mana Mamak dan keluarganya memiliki kenangan yang mendalam.

Mamak sebenarnya juga memiliki seorang adik perempuan, tetapi kami tidak pernah bertemu dengannya karena ia meninggal di usia muda akibat suatu musibah atau kecelakaan. Kami memanggil ibu dari Mamak (nenek kami) dengan sebutan "Nenek", bukan "Niniak" seperti kebiasaan orang Minang. Bahkan, kami menggunakan sebutan "Mbah" untuk ayahnya Mamak. Mbah mempunyai seorang adik yang kami panggil "Pak Soelin" yang menikah dengan perempuan Jawa yang kami panggil "Bude". Pak Soelin sangat menyayangi Mamak, dan keluarganya pun akrab dengan keluarga kami sebagai saudara. Mbah dan Pak Soelin sama-sama bekerja sebagai sipir penjara di Pulau Nusakambangan.

Pertemuan Mamak dengan Ayah, yang kemudian menikahinya, juga cukup unik. Pernikahan Mamak dan Ayah pada tahun 1945 merupakan perjodohan antara seorang putri sipir penjara dengan seorang narapidana—tepatnya tahanan politik pemerintah pendudukan Jepang—bernama Abdoel Hakim, yang tujuh tahun lebih tua dari Mamak. Mamak dan Ayah adalah dua orang yang keras, tetapi ketika bertengkar, Ayah lebih memilih untuk diam. Di kemudian hari, penulisan nama Ayah disesuaikan dengan ejaan yang berlaku pada tahun 1947, dikenal sebagai Ejaan Soewandi, menjadi Abdul Hakim.

Sebagai manusia biasa, tentu Mamak punya kelebihan dan kekurangan. Namun, bagi saya—dan mungkin juga saudara-saudara yang lain—Mamak adalah seorang "superwoman" atau "wonder woman", yang sayangnya baru saya sadari setelah saya mulai beranjak tua dan beliau sudah tiada. Pada masa-masa sulit, ketika Ayah tidak lagi memiliki pekerjaan tetap, "kewonderwomanan" Mamak benar-benar terlihat jelas. Dengan uang pensiun Ayah yang kecil, Mamak berhasil mengatur agar kami semua tetap dapat makan tiga kali sehari, walaupun harus dijatah. Beliau juga berhasil menjaga keharmonisan keluarga dan memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya. Mamak adalah contoh nyata dari seorang ibu yang tangguh dan berdedikasi.

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙑 : Pendidik yang Keras
Saya tidak tahu kapan awalnya keluarga kami pindah dan tinggal di Jakarta, berpindah-pindah dari satu area ke area lain. Yang saya tahu adalah ketika saya lahir sampai berusia 5 tahun, kami tinggal di Jalan Segara yang sekarang menjadi Jalan Veteran. Lokasi rumah kami tersebut kemudian menjadi guest house bagian dari Istana Merdeka. Kemudian, kami pindah dan tinggal di daerah Bendungan Hilir. Saat tinggal di sanalah saya tumbuh dewasa bersama saudara-saudara yang lain sampai kami memilih jalan hidup masing-masing. Kepindahan keluarga dari Jalan Segara ke Bendungan Hilir ini saya rasakan sebagai kemunduran dalam kualitas kehidupan kami. Salah satunya adalah ketiadaan listrik dan air ledeng yang merupakan kebutuhan dasar sebuah rumah tangga. Tapi sekali lagi tulisan ini berfokus kepada cerita tentang Mamak, jadi cerita kemunduran ini akan saya tulis pada kesempatan yang lain, semoga, Mamak bukan tipe orang tua yang memanjakan anak-anaknya secara berlebihan. Beliau juga bukan tipe orang tua yang memperlihatkan kasih sayangnya dengan sentuhan fisik seperti memeluk dan mencium anak-anaknya setiap saat. Hampir tidak pernah ada sentuhan fisik sebagai bentuk kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya, kecuali pada hari-hari istimewa seperti hari ulang tahun. Mungkin memang begitulah cara Mamak memperlihatkan kasih sayangnya, dan saya yakin beliau sangat menyayangi anak-anaknya. Mamak dan Ayah merupakan orang tua yang mengutamakan pendidikan budi pekerti anak-anaknya dengan keras. Mereka tidak mengajarkan pendidikan agama secara berlebihan, biasa-biasa saja. Bahkan ketika suatu hari saya minta ijin untuk ikut sekolah madrasah seperti dilakukan beberapa teman dan tetangga di sore hari, mereka tidak memberi restu.

Mamak bukan seorang ibu yang pembelai, melainkan seorang ibu yang penyelentik, penjewer, bahkan pemukul sebagai bentuk hukuman atas tindakan kami yang dianggap melanggar aturan. Semua anak, termasuk adik angkat, pernah dan sering merasakan pukulan Mamak. Pukulan itu kadang tidak hanya menggunakan tangan kosong, tapi juga alat seperti gagang sapu, penggaris kayu, bulu ayam (kemoceng), dan alat lainnya. Yang paling 'kejam' adalah menggunakan sandal yang sedang dipakainya dan ditamparkan ke pipi. 'Kekejaman' itu bisa terjadi ketika Mamak menilai kesalahan yang kami perbuat sangat membuatnya murka dan melampaui toleransi beliau. Kepada pembantu pun Mamak tak segan main tangan. Mamak juga bukan orang yang suka mengucapkan maaf ketika beliau salah menduga tentang apa yang telah kami perbuat. Beliau lebih memilih diam untuk beberapa waktu sampai kita sama-sama melupakan apa yang telah terjadi. Sebenarnya, Ayah juga seorang penghukum, tetapi cara beliau tidak selalu menyakiti fisik. Beliau lebih banyak mempermalukan, seperti menyuruh kami berdiri jongkok dengan tangan bersilang memegang telinga sekian kali. Pengalaman-pengalaman pahit itu sangat membekas di hati saya, walaupun tidak tersimpan sebagai dendam.

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙑𝙄: "Membuang" Saya ke Kampung

Saya sempat terputus hubungan langsung dengan Mamak dan keluarga selama tiga tahun, saat duduk di kelas IV SR/SD, yaitu pada kurun waktu 1964 sampai dengan 1967 ketika berusia 10 tahun. Saat itu, saya tinggal bersama Nenek di Ombilin. Sebelumnya, dengan iming-iming bisa makan kelapa muda (kesukaan saya) setiap hari, bisa berenang sepuasnya di Danau sepuasnya, bisa menikmati berbagai buah dari pohon buah-buahan milik Nenek, dan hal-hal lain yang disukai anak-anak seusia saya, saya dibujuk oleh Mamak untuk mau tinggal dengan Nenek di Kampung yang memang tinggal sendirian di rumah yang sederhana terbuat dari kayu dan beratap seng. Tidak ingat tanggal dan bulan apa, yang pasti pada tahun 1964 Mamak, Ayah, dan saya beserta dua adik berangkat ke Ombilin menumpang kapal laut KM Musi. Selama hidup di kampung, lama kelamaan saya menyesuaikan diri dengan kehidupan disana seperti berpakaian seadanya, tidak mengenakan alas kaki (nyeker) bahkan saat bersekolah! seperti anak-anak kampung lainnya. Saya terbiasa dengan semua kehidupan kampung seperti menjunjung barang di kepala, menumbuk padi, menganyam daun kelapa kering untuk dijadikan dinding pagar, dan banyak lagi.

Kalau dingat-ingat sekarang setelah lebih dari 60 tahun, 3 tahun mungkin tidak terasa waktu yang lama. Namun kala itu saya sempat merasa tidak lagi punya harapan untuk kembali ke Jakarta berkumpul bersama adik-adik, kakak-kakak, Ayah, dan Mamak. Bagaimana tidak, saat itu satu-satunya alat komunikasi adalah surat-menyurat melalui Kantor Pos, dan betapa buruknya pelayanan pos saat itu, surat dari Jakarta baru sampai ke tangan saya setelah 3 bulan! Tapi akhirnya, masa menjadi "Orang Udik" berakhir setelah Mamak bersama MakTuo Kamsana menjemput saya kembali ke Jakarta untuk berkumpul kembali bersama keluarga.

Konon, menurut Abang tertua saya, tidak benar anggapan bahwa Mamak "membuang" saya ke kampung. Bahkan, Abang saya bilang bahwa tidak lama setelah saya ditinggal di kampung, Mamak merasa bingung sendiri dengan ketidakhadiran saya di tengah keluarga, beliau merindukan saya. Tapi Abang saya yang lain mengatakan hal yang berbeda, dia bilang Mamak cuma ingin ada di antara keluarga kita yang benar-benar jadi orang Padang. Mungkin sebenarnya kakak-kakak saya berkeberatan dengan rencana kepindahan saya ke Ombilin, tapi mereka tidak berani menyampaikannya. Abang saya yang pertama dan kedua sangat menyayangi saya waktu kecil sedangkan kakak nomor tiga yang hanya berselisih 3 tahun dengan saya adalah teman bermain saya

Tentang pengalaman menjadi "orang udik" ini akan saya ceritakan secara lebih lengkap juga pada tulisan saya yang lain.

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙑𝙄𝙄: Mamak Jago Masak

Memasak umumnya dilakukan oleh wanita, tapi tidak semua wanita suka memasak. Bahkan, ada wanita yang bukan hanya tidak suka, bahkan tidak bisa memasak. Di sisi lain, tidak sedikit juga laki-laki yang senang masak dan sangat terampil dalam memasak. Di keluarga kami, Mamaklah yang mengambil tugas memasak dengan penuh dedikasi. Mamak setiap hari memasak sendiri nasi dan lauk-pauknya, tidak menyerahkannya kepada pembantu. Pembantu, sesuai sebutannya, hanya membantu menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak. Mengolahnya adalah tugas Mamak yang selalu dilakukan dengan penuh perhatian.

Mamak tidak memasak sesuatu berdasarkan permintaan melainkan menyusun jadwal, hari apa memasak apa. Beliau memiliki cara tersendiri dalam mengatur menu harian yang seimbang dan lezat. Walau tidak setiap hari, kadang Mamak membuat juga penganan untuk sore hari seperti hunkue atau makanan kecil lainnya yang disukai oleh anak-anak. Untuk sarapan, Mamak biasa membeli roti tawar dengan olesan selai, mentega dengan mesjes. Namun, paling saya sukai ketika Mamak membuat nasi uduk dengan aksesorisnya berupa irisan telur dadar, kacang tanah goreng, bawang goreng, dan sambal kacang. Sering juga Mamak membuat nasi goreng untuk sarapan, yang selalu disajikan dengan sentuhan khas yang membuatnya terasa istimewa.

Mamak tidak memasak atau membuat makanan apa yang dia sendiri tidak suka. Di antaranya jengkol, sehingga tak seorang pun anak-anaknya yang menyukainya, bahkan sampai kami semua dewasa. Saya tidak ingat semua jadwal Mamak hari apa bikin apa, tapi saya paling ingat jadwal Senin, Selasa, dan Sabtu. Karena pada hari-hari itulah Mamak memasak lauk yang paling saya sukai dan tidak sukai. Kenangan tentang keahlian memasak Mamak ini selalu membekas di hati saya dan menjadi bagian dari cerita keluarga yang tak terlupakan.

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙑𝙄𝙄𝙄: Jago Masak

Salah satu keserbabisaan Mamak adalah menjahit. Dengan bermodalkan mesin jahit merk Eska, Mamak memenuhi semua kebutuhan sandang anak-anaknya. Konon mesin merk Eska itu diproduksi oleh pabrik yang sama dengan Singer, apakah merupakan 'kawe'nya saya tidak tahu persis dan tidak penting karena mesin itu cukup baik dan hampir tidak pernah rusak bahkan masih bisa diturunkan kepada adik perempuan kami. Mesin jahit merk Singer kala itu, bahkan mungkin sampai sekarang adalah merk mesin jahit paling terkenal, sehingga menjadi semacam leksikal. Di kemudian hari ada perangkat listrik yang dapat ditempelkan pada mesin jahit tersebut dan Mamak membelinya. Dengan alat tersebut menjahit menjadi lebih mudah dan lebih cepat, tidak perlu lagi menggerakkan pedal di kaki ke depan/belakang semua digerakkan dengan alat, yang orang sebut sebagai dinamo, yaitu hanya dengan menginjak-angkat alat di kaki yang berfungsi sebagai switch, on/off. Kelemahan alat ini adalah kala itu belum ada alat pengatur kecepatan sehingga agak sulit mengatur kecepatan mesin menaik-turunkan jarum jahit.

Mamak menjahit sendiri semua pakaian anak-anaknya, baik bawahan/celana maupun atasan/baju, baik pakaian rumah maupun pakaian sekolah. Saya tidak tahu dari mana Mamak mendapatkan keterampilan menjahit itu tapi sepertinya beliau peroleh secara otodidak.  Pakaian-pakaian baru jahitan Mamak biasanya dibuatkan untuk kami saat-saat atau pada hari-hari penting seperti Lebaran dan ulang tahun. Di akhir tahun 50an dan awal 60an belum semua sekolah menerapkan seragam tapi seingat saya ketika SMA di awal 70an sekolah saya mewajibkan seragam putih abu-abu seperti yang dipakai anak-anak SMA sekarang akan tetapi saat itu belum dikenal lambang Osis di dada kiri seperti anak-anak SMA sekarang. Ketika itu seragam sayapun adalah jahitan Mamak. Seandainya kala itu sudah ada pakaian seragam sekolah yang dijual di toko toko kain seperti sekarang, saya yakin Mamak tetap akan menjahit sendiri seragam sekolah kami. Bukan semata-mata dikarenakan pertimbangan ekonomis melainkan pertimbangan estetika. Pakaian jadi belum tentu benar-benar pas di badan selain itu jahitannya terkesan tidak rapih atau istilahnya kodian. Seiring dengan berjalannya waktu dimana kami sudah berangkat dewasa, kami mulai membeli sendiri pakaian kami.

Mamak memiliki standar yang tinggi dalam menjahit, dan beliau selalu berusaha untuk membuat pakaian yang pas dan rapi. Keterampilan menjahit Mamak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kami, dan saya masih sangat menghargai hasil jahitannya hingga hari ini. Salah satu kemenonjolan Mamak dalam hal jahit-menjahit adalah dalam hal membuat lubang kancing. Suatu hari saya pernah bertanya kepada beliau mengapa lubang kancing baju yang saya beli susah sekali dimasuki kancingnya, beliau menjawab bahwa jahitan sekeliling lubang kancing pada pakaian jadi itu dibuat memakai mesin yang kadang-kadang malahan belum sempat dilubangi jadi kita harus menyayatnya sendiri.

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙄𝙓: Berbahasa Inggris tanpa belajar

Ada satu aspek dari diri Mamak yang selalu membuat saya kagum: kemampuannya dalam berbahasa. Beliau, menurut pengamatan saya, bahkan lebih fasih dan luwes ketika berbicara dalam bahasa Jawa dibandingkan dengan bahasa ibunya sendiri, Minangkabau. Ini membuat saya berpikir bahwa Mamak memang dianugerahi bakat alami dalam hal penguasaan bahasa. Beliau memiliki semacam kepekaan linguistik yang membuatnya mudah menyerap dan menggunakan berbagai macam bahasa.

Selain kedua bahasa daerah tersebut, Mamak dan Ayah juga memiliki kebiasaan unik, yaitu berkomunikasi dalam bahasa Belanda satu sama lain, terutama ketika berbicara dengan teman-teman seangkatan mereka. Bagi generasi yang tumbuh di era kolonial, kemampuan berbahasa Belanda bukanlah hal yang aneh. Bahasa itu adalah bahasa pengantar dalam pendidikan dan administrasi pada masa itu, sehingga menjadi semacam bahasa pergaulan di kalangan terpelajar. Namun, yang ingin saya ceritakan di sini bukanlah sekadar kemampuan beliau dalam bahasa Belanda, melainkan sebuah kejutan yang lebih istimewa: penguasaannya terhadap bahasa Inggris!

Di dekat tempat tinggal kami, meskipun bisa dibilang tetangga yang agak jauh, terdapat sebuah rumah yang menyelenggarakan kursus bahasa Inggris dengan fokus pada percakapan. Sebuah hal yang luar biasa adalah, tanpa pernah mengenyam pendidikan formal dalam bahasa Inggris – yang memang tidak termasuk dalam kurikulum sekolah di zaman Belanda – Mamak dengan penuh percaya diri mendaftarkan diri dan mengikuti kursus percakapan tersebut. Ini menunjukkan betapa besar rasa ingin tahu dan keberanian beliau untuk mencoba hal baru, bahkan di usia yang mungkin dianggap tidak lagi muda untuk belajar bahasa asing.

Hasilnya sungguh mencengangkan. Mamak tidak hanya mampu menguasai percakapan bahasa Inggris sehari-hari, tetapi beliau juga sanggup melahap habis berbagai macam novel berbahasa Inggris! Ini semakin membuktikan kecintaan beliau pada dunia literasi. Mamak memang seorang pembaca yang 'rakus'. Beliau membaca apa saja yang bisa ditemukan. Hebatnya lagi, ketika persediaan bacaan menipis, komik anak-anak kami pun tak luput dari perhatiannya, bahkan cerita silat Cina yang penuh dengan istilah asing pun beliau coba pahami! Kegemaran membaca ini, saya yakin, turut memperkaya kosakata dan pemahamannya terhadap bahasa Inggris.

Kehidupan rumah tangga Mamak juga turut andil dalam mengasah kemampuan berbahasanya. Bersuamikan seorang wartawan dan penulis yang tentu saja memiliki wawasan luas dan kemampuan berbahasa yang baik, ditambah dengan kegemaran membaca yang tak pernah surut serta bakat alaminya dalam hal bahasa, ternyata mengantarkan Mamak pada sebuah pencapaian yang membanggakan. Beliau mampu menulis sebuah artikel yang menceritakan kisah cinta uniknya dengan Ayah, sebuah pertemuan yang tak terduga di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. Artikel yang ditulis dengan gaya bahasa yang lugas namun menyentuh itu akhirnya dimuat di sebuah majalah wanita ternama, Femina, dengan judul yang romantis dan penuh makna: "Cinta Bersemi di Nusakambangan" pada tahun 80-an.

Keberhasilan Mamak menulis artikel tersebut bukan hanya menunjukkan kemampuannya dalam merangkai kata, tetapi juga kemampuannya untuk mengolah pengalaman pribadi menjadi sebuah cerita yang menarik dan layak dibaca oleh khalayak luas. Ini adalah bukti nyata bahwa kecintaan pada bahasa, ditambah dengan kemauan untuk terus belajar dan berkembang, dapat membawa seseorang pada pencapaian yang tak terduga, bahkan tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang tersebut. Kemampuan berbahasa Mamak, dalam berbagai tingkatan dan jenisnya, adalah salah satu warisan intelektual yang sangat saya kagumi dan menjadi inspirasi bagi saya dan mungkin juga bagi generasi setelahnya. Beliau adalah bukti hidup bahwa semangat belajar dan rasa ingin tahu tidak mengenal batas usia maupun latar belakang pendidikan.

π˜½π˜Όπ™‚π™„π˜Όπ™‰ 𝙓: PENUTUP 

Keluar masuk rumah sakit

Tahun-tahun terakhir hayatnya, Mamak terganggu berbagai penyakit, dan keluar masuk berbgai rumah sakit di Jakarta bahkan sempat difasilitasi oleh Abang saya yang lain lagi berobat di sebuah rumah sakit ternama di Singapura, Mt. Elizabeth. Ironisnya setelah pemeriksaan awal oleh dokter-dokter Singapura, ternyata Mamak tidak mengidap penyakit epilapsi seperti yang dikatakan oleh dokter di Jakarta.
Pada akhirnya, setelah berjuang dengan semangat hidup yang tinggi dan mungkin juga karena pihak rumah sakit   merasa  Mamak sudah  tidak ada harapan lagi untuk disembuhkan, mereka menganjurkan  kami, pihak keluarga, untuk membawa saja Mamak pulang ke rumah, membahagiakannya, menghabiskan sisa usianya ditengah-tengah keluarga yang mencintai dan dicintainya. Dalam kondisi yang sangat menyedihkan keluarga adik saya merelakan salah satu kamar tidurnya menjadi kamar perawatan Mamak, lengkap dengan ranjang dan peralatan medis seperti layaknya ruangan ICU.

Mamak meninggalkan kami untuk selama-lamanya

Walau kita semua tahu bahwa semua manusia, semua yang hidup, akan mati, tetap saja ... ketika yang wafat itu, yang meninggalkan kita untuk selamanya itu, adalah orang yang sangat kita cintai, sulit rasanya menerima kenyataan bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi dengan Mamak. Ketika itu saya berada di Kantor,  adik saya mengirim SMS (belum ada Whatsapp) setiap saat terjadi perubahan kondisi terutama detak jantung Mamak yang terus menurun
Mamak menghembuskan nafas terakhir, meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya pada siang hari 13 Januari 2005 dalam usia menjelang 83 tahun di rumah salah seorang adik saya di bilangan Cibubur.
Cinta itu aneh, ketika orang yang kita cintai berada di sekitar kita, kita seolah tidak merasakan apa-apa. Bahkan walau berada jauh dari tempat kita, selama kita tahu bahwa dia masih ada, dan kita tahu dia baik-baik saja hati kita tetap tenang. Namun ketika tahu dia telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya, kita langsung merasa ada sesuatu yang terenggut dari diri kita.











No comments:

Post a Comment

Blogger, Platform Blogging Terbaik

Platform Blogger masih merupakan salah satu platform blogging paling user-friendly karena: Alasan Utama 1. Antarmuka intuitif: Mudah digunak...